
SIDOARJO. KemiriNews.Com |Ribuan sepeda tua menguasai jalanan dan kawasan GOR Sidoarjo, Minggu (1/11/2026). Dari berbagai penjuru Nusantara hingga Malaysia, para onthelis datang bukan sekadar untuk mengayuh sepeda klasik, melainkan membawa semangat persaudaraan, merawat jejak sejarah, sekaligus menggerakkan denyut ekonomi masyarakat.
Suasana tempo dulu terasa begitu kuat dalam gelaran Ngonthel Bumi Jenggolo Sidoarjo 2026 bertajuk Gowes Djadoel Nusantara 2026 Ribuan pecinta sepeda tua dari Jawa Timur, Jakarta, Bali, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Merauke memadati kawasan GOR Sidoarjo.
Tak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, komunitas onthelis dari Malaysia juga hadir sebagai tamu kehormatan. Kehadiran peserta lintas daerah hingga mancanegara tersebut semakin menegaskan bahwa Ngonthel Bumi Jenggolo telah berkembang menjadi magnet pertemuan komunitas sepeda tua.
Bukan sekadar ajang bersepeda, kegiatan ini menjadi ruang besar untuk menghidupkan kembali nilai sejarah, budaya, dan tradisi yang melekat pada sepeda onthel.
Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, Ngonthel Bumi Jenggolo semakin menunjukkan daya tariknya. Ribuan peserta tampil dengan sepeda klasik andalan masing-masing. Parade sepeda tua, pakaian pejuang 1945, hingga alunan musik keroncong dan hiburan dangdut semakin menghidupkan suasana nostalgia.
Kegiatan yang digelar Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Sidoarjo bersama Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Sidoarjo itu juga menghadirkan bazar UMKM, pasar klitikan jadul, pemeriksaan kesehatan gratis, serta sarasehan komunitas sepeda.
Rangkaian acara telah dimulai sejak Sabtu (31/10/2026) di Kantor Disporapar Sidoarjo. Puncak kegiatan berlangsung di GOR Sidoarjo dan dihadiri Ketua DPRD Sidoarjo Abdillah Nasih, Kepala Disporapar Sidoarjo Rudi Setiawan, Ketua KORMI Nasional Adil Hakim, Ketua KORMI Jawa Timur Debie Sisilia Samosa, Ketua KORMI Sidoarjo MG Hadi Sutjipto, Ketua KOSTI Pusat Purnomo Sugeng Raharjo, serta Ketua KOSTI Sidoarjo Ary Bayashi.
Mewakili Bupati Sidoarjo H. Subandi, Kepala Disporapar Sidoarjo Rudi Setiawan menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta yang datang dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk komunitas dari Malaysia.
Ia mengajak seluruh onthelis dan onthelista untuk tidak hanya menikmati kegiatan bersepeda, tetapi juga menjelajahi berbagai potensi wisata, budaya, tradisi, serta produk unggulan Kabupaten Sidoarjo.
“Kepada seluruh onthelis-onthelista se-Nusantara, jelajahi dan nikmati Kabupaten Sidoarjo dengan beragam pariwisata, budaya, tradisi, dan produk unggulannya,” ungkap Rudi.
Menurutnya, perhelatan tersebut juga menjadi momentum penting untuk memperkenalkan produk lokal kepada para pengunjung dari luar daerah. Kehadiran bazar UMKM diharapkan mampu memperluas pasar sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil.
Dengan perpaduan olahraga rekreasi, seni budaya, komunitas, dan ekonomi kreatif, Ngonthel Bumi Jenggolo diharapkan terus berkembang menjadi agenda wisata tahunan yang memiliki daya tarik nasional bahkan internasional.
Sementara itu, Ketua DPRD Sidoarjo Abdillah Nasih menegaskan bahwa sepeda tua bukan sekadar barang antik atau alat transportasi masa lalu. Di balik bentuknya yang sederhana, sepeda onthel menyimpan jejak penting sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
“Para pendahulu dan penggerak kemerdekaan kita banyak menggunakan sepeda angin sebagai alat pergerakan perjuangan. Sepeda tua memiliki nilai sejarah yang luar biasa dan mengajarkan kita arti penting merawat ingatan sejarah,” ujarnya.
Abdillah juga menyampaikan filosofi Jawa yang menggambarkan semangat para pecinta sepeda tua. Tuwo gapopo sing penting sehat, tuwo sing penting ngrejekeni, tuwo bersejarah, dan tuwo berkah, tuturnya.
Menurutnya, pelestarian sepeda tua juga memiliki dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat. Kehadiran ribuan peserta dan pengunjung membuka peluang bagi pedagang dan pelaku UMKM untuk menawarkan berbagai produk.
“Buktinya apa? Banyak Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang bermunculan dan tumbuh pesat dalam perhelatan seperti pagi hari ini. Ini membuktikan bahwa hobi dan pelestarian sejarah juga bisa menggerakkan roda perekonomian lokal,” jelasnya.
Ngontel Bumi Jenggolo Sidoarjo 2026 akhirnya membuktikan bahwa sepeda tua tidak sekadar bertahan melawan perubahan zaman. Dari kayuhan roda klasik, tumbuh persaudaraan lintas daerah, pelestarian sejarah dan budaya, hingga perputaran ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat Sidoarjo. (Tim)
